**Di Kamar Hamida**
Hamida
menanyakan kepada Dasi (pelayan) apakah semua pekerjaan sudah selesai,
dan Dasi mengiyakan. Seorang Dasi memberitahukan bahwa Jodha ingin
bertemu dan tak lama Jodha sudah memasuki kamar Hamida.
Hamidah: “Jodha...”
Jodha: “Bagaimana kabarmu Ibu?”
Hamidah: “Aku lebih baik sekarang. Tetapi ketika kau meninggalkanku tanpa memberitahuku, aku sangat buruk.”
Jodha tak dapat menahan air matanya lagi, “Maafkan aku Ibu. Maafkan aku...”
Hamidah memeluk Jodha sejenak kemudian melepaskannya, “Dulu aku tidak bisa melihat air matamu. Sekarang pun masih sama. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku bisa mengerti emosimu.”
Hamida
kemudian mengajak Jodha duduk, “Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa
padaku Jodha? Bahkan anak kecil saja menceritakan masalahnya dengan
menangis kepada ibunya dan kau menanggung semuanya sendirian. Aku pikir
ada kekurangan dalam cintaku. Kau bukan hanya istri Jalal, apakah kau
tidak berfikir bahwa kau anakku juga? Jalal harus dihukum atas
kesalahannya. Tapi apa kesalahanku, Ratu Salima dan Rahim? Rahim
berpikir bahwa chotiaminya telah meninggalkannya karena dia meminta
cerita. Dia datang kepadaku dan meminta membawamu kembali. Dan jika
choti ammiku kembali aku tidak akan pernah memintanya bercerita. Mengapa
kau menghukum kamu semua?”
Jodha: “Tolong maafkan aku Ibu. Aku mengambil keputusan dalam keadaan emosi.”
Hamidah:
“Kau akan dihukum untuk kesalahan ini. Mulai hari ini, Kau tidak
diijinkan meninggalkan Agra. Kau tidak akan keluar dari kerajaan ini
tanpa memberitahuku.”
Jodha
kini sudah ada di bawah dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Hamida.
Ia yang awalnya terkejut mendengar bahwa ia akan mendapat hukuman kini
tersenyum meskipun air matanya masih menggenang. “Dengan senang hati aku
menerima hukuman ini Ibu.”
Hamidah:
“Kau tahu Jodha, karena kejadian ini ada hikmahnya juga. Jika kau tidak
meninggalkan Jalal, Jalal tidak akan pernah menyadari kesalahannya.
Jalal tidak akan menyadari bahwa dia juga memiliki hati. Ini adalah
pertama kalinya aku melihat Jalal bekerja dengan hatinya. Ia menghormati
orang lain. Aku berterima kasih kepadamu karena kau telah membuat hati
Jalal kembali.”
Jodha kini berada dikamarnya bersama Shivani dan Moti.
Jodha:
“Yang Mulia sudah meminta maaf kepadaku berulang kali, tapi aku tidak
bergeming. Tapi sekarang aku sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan.”
Shivani:
“Kau telah berbuat salah kepada-Nya. Ia meninggalkan kerajaannya untuk
mencarimu dan meminta pengampunan tapi kau tidak pernah memaafkannya.
Aku bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya ketika ia
mendengar bahwa kau akan kembali. Dia meminta semua orang untuk membuat
persiapan untuk menyambutmu. Yang Mulia sangat mencintaimu.”
Jodha: “Tapi tidak sebanyak Tejwan mencintaimu.”
Shivani: “Teruslah menggodaku.”
Jodha: “Kau bisa menggodaku, mengapa aku tidak bisa menggodamu? Apakah kau bahagia bersama Tejwan?”
Shivani:
“Ya, aku sangat bahagia dan hal ini terjadi karena Yang Mulia.
Bagaimana keadaan semua orang di amir? Apakah Ayah sudah memaafkanku?”
Jodha: “Kau adalah putri mereka bagaimana mereka tidak akan bisa marah
padamu selamanya? Kau telah memberi mereka alasan untuk menjadi marah
padamu. Tapi ketika Yang Mulia mengampunimu dan tejwan, aku bisa melihat
perdamaian di wajah.”
Shivani mendongakkan kepalanya, “Lukisan yang indah.” Jodha bingung dan ikut melihat kearah yang Shivani lihat.
Di Kamar Ruqaiya, Ruqaiya sedang bersama dengan seorang pelukis.
Ruqaiya:
“Kau tidak akan menang Ratu Jodha karena permainan berakhir.” Ruqaiya
memandang lukisan, “Subhanallah... wow sangat bagus.” Dia memberikan
hadiah kepada pelukis tersebut dan menyuruhnya pergi.
Ruqaiya:
“Haram ini telah dipimpin oleh orang telah pikiran Jalal. Kau datang
dan mengubah semua aturan. Sekarang ini adalah permainan untuk
memenangkan hati Jalal. Pertama kali seseorang telah mengajakku untuk
bersaing.”
**Di Kamar Jodha**
Jodha: “Bagaimana lukisan ini bisa dikamarku, Moti?”
Moti:
“Yang Mulia melukis itu untukmu. Ketika kau tidak di sini Yang Mulia
selalu tinggal disini sepanjang malam. Aku tidak pernah melihat dia
tidur. Dia selalu melihat lukisanmu dan terus berbicara pada lukisanmu
selama berjam-jam. Aku merasa seperti dia telah kehilangan hidupnya. Aku
telah melihat dia menangis. Dia tidak pernah menemui istrinya yang lain
selama kau pergi. Aku telah melihat cinta untukmu dimatanya.”
Shivani menggoda Jodha, “Jodha Jiji, apa yang kau pikirkan? Ada waktu tersisa malam ini.”
Jodha
tidak terima dan mulai mengejar Shivani yang memutari Moti. Shivani
menjewer kedua telinga, “Aku menyesal.” Dan mereka saling memeluk dengan
bahagia.
**Malam hari di Kamar Jalal**
Jalal
menatap keluar jendela dan terus tersenyum mengenang saat-saat
kedatangan Jodha. ((Dan penulis pun juga ikut tersenyum mengingat adegan
tersebut... *Abaikan*)). Saat Jalal mengulurkan tangannya dan Jodha
juga memegang tangannya. Namun lamunannya dibuyarkan karena kedatangan
Prajurit yang mengatakan bahwa Jodha ingin menemuinya. Jalal merasa
gugup dan bingung.
Perlahan-lahan Jodha memasuki kamar Jalal.
Jodha: “Yang Mulia aku ingin mengatakan sesuatu.” Seperti yang biasa Jodha lakukan setiap kali menemui Jalal.
Jalal:
“Terima kasih Tuhan, aku telah mendengar kata-kata itu lagi. Aku
menunggu sangat lama untuk mendengar kata-kata itu lagi darimu.” Jalal
teringat sesuatu, “Tunggulah sebenatar.”
Jalal membuka peti dan mengambil cambuk dari sana, kemudian menghampiri Jodha.
Jodha: “Apa ini Yang Mulia?”
Jalal:
“Aku layak mendapatkan hukuman karena perbuatanku. Aku tahu bahwa
kata-kataku sangat menyakitimu. Aku ingin kau memukulku dengan ini.
Hanya kemudian aku akan dapat melihat matamu.” Ia memberikan cambuk itu
kepada Jodha. Sementara Jodha bingung dengan sikap Jalal.