"MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;">
Jodha terbangun tengah malam, tiba-tiba saja dia merasa sangat haus. Air
di dalam botol yang selalu diletakkannya di meja samping tempat tidurnya, sudah
habis diminum. Terpaksa dia keluar ke dapur untuk mengambil air lagi. Saat
sedang menuang air ke dalam botol, sudut matanya menangkap sebuah gerakan yang
mencurigakan dari arah ruang tamu depan. Waspada, Jodha meraih benda terdekat,
sebuah spatula kayu. Digenggamnya alat itu erat-erat di depan dadanya, lalu dia
melangkah mendekati objek yang bergerak itu.
Jodha –“Siapa disana!!”
Jodha memicingkan matanya, mencoba melihat lebih jelas menembus
kegelapan ruangan itu.
“Ini aku..”
Sebuah suara yang cukup familier menjawab dari dalam kegelapan.
Jodha –“Tuan Jalal?!”
Jodha meraba saklar lampu dan menekannya. Klap. Lampu ruang tamu
menyala. Awalnya menyilaukan bagi Jodha, karena matanya belum bisa menyesuaikan.
Jodha mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Barulah dia bisa melihat Jalal
yang sedang duduk di sofa dengan kaki diluruskan di atas meja. Jodha menghampiri
Jalal hingga berdiri di depannya. Saat itulah dia baru memperhatikan ada sebuah
kotak yang terbuka di sebelah Jalal.
Jodha –“Sedang apa anda di dalam gelap?”
Jalal –“Aku tidak bisa tidur.”
Jodha lalu duduk di sofa di sebelah kanan Jalal.
Jodha –“Kau menyukai hadiahnya?”
Jalal –“Jadi hadiah ini darimu?”
Jodha mengangguk. Jalal tersenyum kemudian meletakkan kotak itu di
pangkuannya.
Jalal –“Aku menyukainya... Terima kasih... Ukurannya pas... Bagaimana
kau tahu? Asal tebak?”
Jodha –“Tidak, aku meminta bantuan Bibi Meeta untuk meminjam sebuah
sepatumu sebagai ukuran. Maafkan aku karena meminjamnya tanpa ijin darimu. Mulai
pagi aku berpikir cukup keras hingga akhirnya memilih hadiah ini untukmu.”
Jalal –“Jadi karena itu kau tidak ada di cafe tadi siang.”
Jodha –“Kau ke cafe tadi siang? Untuk apa?”
Jalal –“Makan siang.”
Jodha –“Ooh..”
Jodha –“Selamat ulang tahun.”
Jalal –“Terima kasih. Jujur saja, ini pertama kalinya aku menerima
hadiah berupa sepatu. Tapi aku sangat menghargainya.”
Jodha –“Hadiah apa yang biasanya kau dapatkan?”
Jalal –“Jam tangan, pena, manset. Hadiah standar untuk pria. Kenapa kau
memilih sepatu?”
Jodha –“Seorang temanku
mengatakan jika kau memakai sepatu yang terbaik, maka sepatu itu akan membawamu
ke tempat yang terbaik juga. Jadi aku mendoakan semoga saat kau memakai sepatu
ini, maka akan membawamu kempat-tempat atau orang-orang yang membuatmu bahagia.”
Jalal –“Apa kau percaya itu?”
Jodha –“Aku percaya.... Ehm, tunggu sebentar.”
Jodha menuju ke dapur. Dan saat kembali ke depan Jalal, di tangannya
sudah ada sebuah pudding tart coklat berbalur krim putih dan cherry di bagian
atasnya.
Jodha –“Ini untuk perayaannya. Tart ini atas saran dari Bibi Meeta.”
Jalal tersenyum dan menerima tart yang diangsurkan oleh Jodha.
Diletakkannya di atas meja.
Jalal –“Terima kasih lagi... Ini aneh.”
Jodha –“Kenapa?”
Jalal –“Aku belum pernah merayakan ulang tahunku dengan cara seperti
ini. Rasanya ini seperti perayaan tahun pertamaku. Biasanya aku sendiri yang
menentukan pesta seperti apa yang kuinginkan. Bahkan Ibuku sendiripun tidak
pernah bersusah payah menyiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku.”
Jodha –“Aku senang bisa memberikan sesuatu yang berkesan untukmu. Itulah
gunanya seorang teman. Kau harus mengumpulkan lebih banyak teman, jadi kau bisa
merayakan ulang tahunmu dengan berkesan setiap tahunnya. Terima kasih pada Bibi
Meeta, kalau bukan karena dia aku tidak akan tahu kau ulang tahun hari ini.”
Jalal –“Kau tidak berpikir aku sedang merayumu kan?”
Jodha –“Sama sekali tidak. Hubungan kita bukan hubungan yang seperti
itu. Lagipula aku sudah kebal dengan semua bentuk rayuan.”
Mereka kompak terdiam, sama-sama bingung harus bicara apa lagi.
Jodha –“Tuan Jalal, kenapa tidak kau makan kuenya?”
Jalal –“Kuenya terlalu cantik untuk kumakan. Tapi besok kita akan menikmatinya
bersama Bibi Meeta juga.”
Jodha –“Baiklah..... Tuan Jalal, aku harus kembali ke kamar.... Selamat
malam.”
Jodha sudah beranjak berdiri dari sofa, saat Jalal memanggilnya lagi.
Jalal –“Jodha... mmm.. besok siang kau ada acara?”
Jodha –“Sebenarnya tidak, tapi aku akan sibuk di cafe karena ada pesanan
kue yang cukup banyak. Kenapa? Apa kau butuh aku untuk menemui klien
bersamamu?”
Jalal –“Tidak.. lain kali saja. Tidurlah.”
Jodha masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Jalal yang
sepertinya kembali tenggelam dalam pikirannya. Jodha tidak tahu apakah Jalal
akhirnya bisa tidur atau tidak karena keesokan paginya, Jodha tidak melihat
Jalal saat sarapan pagi seperti dua hari sebelumnya.
Jodha –“Bibi Meeta, Tuan Jalal belum bangun?”
Bibi Meeta –“Tuan Jalal sudah pergi ke bandara menjemput Nona Bhaksi.”
Jodha –“Bhaksi datang? Akhirnyaaa... Akhirnya aku bisa bicara dengan
Bhaksi. Kira-kira dia sudah mendarat belum, ya?”
Bibi Meeta –“Saya tidak tahu. Apa anda akan menunggunya?”
Jodha –“Tidak perlu. Lagipula dia pasti langsung istirahat. Aku masih
bisa menemuinya nanti malam. Sekarang aku pergi dulu, Bibi Meeta.”
Di bandara, Jalal menunggu kemunculan Bhaksi, adik tersayangnya, di terminal
kedatangan luar negeri. Semalam Bhaksi menelponnya, mengabarkan kalau dia akan
pulang ke India. Sepertinya kepulangannya kali ini tidak direncanakan, karena
biasanya Bhaksi selalu membicarakan dulu dengan Jalal rencana kepulangannya
jauh-jauh hari. Jalal tidak pernah bisa memaksa Bhaksi pulang, bahkan saat hari
pernikahannya dengan Jodha, Bhaksi dengan tegas menolak pulang. Alasannya
karena dia tidak setuju kakaknya menikahi wanita yang menjadi musuhnya. Meski
Jalal saat itu sudah berkali-kali menjelaskan bahwa pernikahannya bukan atas
dasar cinta, tapi Bhaksi tetap menolak percaya, kebenciannya pada Jodha sudah
teramat dalam.
Pengeras suara bandara mengumumkan pendaratan pesawat yang ditumpangi
Bhaksi. Jalal bersiap-siap di tempat yang mudah terlihat. Di antara wajah-wajah
penumpang yang turun, Jalal langsung bisa melihatnya. Bhaksi muncul dengan
penampilan yang chic dan trendy khas gadis kota. Dari ujung rambut sampai ujung
kaki adalah hasil perawatan salon ternama.
Bhaksi tersenyum lebar saat melihat kakak tercintanya. Tangannya
direntangkan lebar-lebar dan berlari kecil untuk memeluk Jalal. Jalal membalas
pelukan adiknya dengan hangat.
Jalal –“Apa kau sudah menghabiskan semua uang yang kuberikan padamu?..
Karena itu kau pulang?”
Bhaksi –“Kakak, jangan mengolok-olokku..”
Jalal –“Baiklah, aku tidak akan bercanda lagi... Ayo kita pulang.. Apa
kau tidak lapar?”
Bhaksi –“Tunggu kak... Aku tidak mau pulang ke apartemenmu! Aku mau
tidur di hotel saja! Aku tidak mau melihat wajah Jodha!”
Jalal –“Bhaksi, tenang saja.. Dia tidak akan berani macam-macam denganmu.
Meski kau membencinya, bukan berarti kau harus terus menghindarinya. Sekarang
dia sudah jadi kakak iparmu.”
Bhaksi –“Justru karena aku membencinya, maka jangan sampai aku bertemu
dengannya. Karena jika aku melihatnya, aku tidak bisa berjanji akan menahan
diriku untuk tidak mencakar wajahnya. Meski dia kakak iparku, kakak jangan
menyuruhku untuk menerimanya. Kalau kakak memang mencintaiku, kakak tidak akan
menikahinya atau kakak bisa menceraikannya secepatnya.”
Bhaksi memasang wajah cemberut, berharap Jalal akan menurutinya.
Jalal –“Tidak sekarang, aku masih membutuhkannya untuk beberapa hal.”
Bhaksi –“Kalau begitu aku tidur di hotel saja!”
Jalal –“Baiklah.. ayo.. setelah itu kita makan siang..”
Akhirnya Jalal menuruti keinginan Bhaksi. Setelah selesai mengurus bagasi,
Jalal mengantar Bhaksi ke hotel di Delhi.
Untuk makan siangnya, Jalal mengajak Bhaksi makan di sebuah rumah makan
yang terkenal akan masakan lokalnya. Tempatnya tidak terlalu mewah atau resmi,
tapi terasa sangat nyaman apalagi jika makan bersama keluarga disana. Awalnya
Jalal justru ingin mengajak Bhaksi makan di tempat Jodha. Tapi karena takut akan terjadi keributan
apalagi jika Bhaksi tidak bisa menahan emosinya, maka diurungkannya niatnya
itu. Jadilah mereka makan siang disana.
Jalal sudah membayangkan akan menikmati siang ini bersama adik yang
sudah lama tidak bersamanya. Namun kebahagiaan seketika lenyap dari wajahnya, berubah
menjadi kegelapan dan kemarahan. Wajahnya memucat dan tangannya mengepal,
menunjukkan kalau dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan amarahnya.
Bhaksi yang ada di sebelahnya juga tidak jauh berbeda. Matanya nanar dan napasnya
memburu melihat pemandangan di depannya. Tapi berbeda dari Jalal yang masih
terpaku di tempatnya berdiri, Bhaksi sudah mendahuluinya melangkah, menghampiri
dua orang yang sedang duduk berhadapan dan terlihat sedang terlibat pembicaraan
yang serius. Kedua orang itu tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi.
Barulah saat Bhaksi berdiri di samping meja mereka, saat itulah mereka menyadarinya.
Keduanya lantas berdiri bermaksud untuk memberi salam pada Bhaksi. Tapi
terlambat. PLAKK! Sebuah tamparan sudah melayang. Tidak seorangpun menduganya. Seperti
tablo, semua suara dan gerakan di dalam ruangan itu pun seakan ikut berhenti.
Bhaksi –“Jodha, apa kau sudah tidak punya rasa malu? Ingatkah kau sudah
menjadi istri kakakku, tapi kau masih menemui pria ini?!”
Jalal baru bereaksi dan mendekat saat Bhaksi mulai berteriak pada Jodha.
Bahkan saat Jodha ditampar, Jalal hanya bisa ternganga tidak percaya, karena
dia sendiri juga tidak menduga tindakan adiknya.
Setelah melabrak Jodha, Bhaksi beralih pada pria di depannya.
Bhaksi –“Kak Shahab, aku terima kau mengkhianatiku, tapi tidak bisakah
kalian melakukannya di ujung dunia sana?! Dulu kau menyakitiku, sekarang kalian
juga menyakiti kakakku!!”
Shahab hanya diam saja, tidak berusaha sedikitpun untuk memberikan
penjelasan. Jodha yang sudah mulai pulih dari keterkejutannya, mencoba untuk
menenangkan emosi Bhaksi.
Jodha –“Bhaksi, kaukah Bhaksi?? Aku ingin sekali bertemu denganmu..”
Bhaksi –“Aku tidak!! Aku jijik pada kalian berdua!
Jalal –“Bhaksi, tenanglah!!...”
Jalal berusaha menenangkan Bhaksi, tapi tidak berhasil. Bhaksi semakin
histeris.
Bhaksi –“Kau merebut Kak Shahab dariku! Kau juga masuk dalam keluargaku!
Kenapa kau suka sekali menghancurkan kehidupanku!!”
Jodha –“Dengarkan aku dulu..”
Bhaksi –“Tidak! Yang aku inginkan kau enyah dari hidupku!!”
Jodha –“Kami tidak..”
Bhaksi –“Kau masih ingin menyangkalnya...?! Kuhajar kau!!”
Jalal –“Bhaksi hentikan!”
Jalal menahan tubuh Bhaksi yang berusaha menjambak rambut Jodha. Tarikannya
sangat kuat, Jodha sampai ikut terseret sedikit karena rambutnya yang dijambak
Bhaksi. Sambil meringis, Jodha berusaha melepaskan tangan Bhaksi dari
rambutnya. Langkah terakhir, Jalal menyeret Bhaksi keluar dari tempat itu.
Jalal masih sempat melemparkan pandangannya yang menusuk ke arah Jodha. Tapi
karena Bhaksi yang terus meronta, Jalal terpaksa menunda semua perhitungan yang
ingin dilakukannya pada mereka berdua.
Setelah Jalal dan Bhaksi tak terlihat lagi, Jodha langsung terduduk lemas.
Kejadiannya sangat cepat. Apalagi baru disadarinya, semua mata di dalam ruangan
itu memperhatikan mereka. Benar-benar saat-saat yang memalukan. Jodha tidak
takut seandainya Jalal menceraikannya setelah kejadian ini, tapi satu hal
terakhir yang ingin dilakukannya adalah meluruskan semua kesalah pahaman ini.
Ketika tadi siang Shahab menemuinya di cafe, Jodha sudah
berencana mempertemukan mereka berempat termasuk Jalal dan Bhaksi untuk
menjelaskan kesalah pahaman yang sudah terlanjur terjadi. Kemunculan Kak Shahab
sangat bertepatan waktunya dengan kepulangan Bhaksi. Karena itulah Jodha tidak
ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Rencana tersebut dia diskusikan terlebih
dulu dengan Shahab.
Shahab menjumpai Jodha di cafenya, tapi Jodha mengajaknya bicara
di tempat lain, karena menurutnya suasana di cafe terlalu ramai untuk bisa
bicara serius. Akhirnya tempat inilah yang mereka pilih. Saat itu Jodha tidak
memperkirakan sama sekali bahwa semuanya akan terjadi karena kebetulan semata.
Mereka baru saja duduk dan masih saling menceritakan kegiatan
masing-masing, ketika tiba-tiba ada seorang gadis berdiri tepat di samping meja
mereka. Jodha tidak mengenal siapa gadis itu, tapi sepertinya Shahab yang
mengenalnya. Jodha melihat Shahab berdiri, jadi dia juga ikut berdiri. Dari
sudut matanya, dia melihat keberadaan Jalal beberapa langkah dari mereka. Belum
sempat Jodha berpikir ataupun berkata apa-apa. Tanpa dinyana dia ditampar oleh
gadis itu. Refleks Jodha memegang pipinya yang terasa sakit. Bahkan air matanya
keluar merasakan panasnya tamparan itu. Untunglah rambutnya yang terurai
menutupi sebagian wajahnya, jadi tidak ada yang melihat kernyitan sakit di
wajahnya.
Saat gadis itu mulai menyebut tentang pernikahannya dengan
kakaknya, barulah dia bisa menebak siapa gadis ini, Bhaksi, adik Jalal. Gagal
sudah rencananya untuk bicara baik-baik. Jangankan bicara, Bhaksi malah semakin
emosional, puncaknya dia berusaha mencakar Jodha, meleset, dia hanya berhasil
menarik rambut Jodha, menjambaknya sekuat tenaga. Jalal berhasil menahan bhaksi
dari tindakan brutalnya dan menyeretnya keluar. Jodha bisa merasakan tatapan
menusuk dari Jalal dan sudah bisa membayangkan kemarahan besar yang akan
diterimanya. Tapi saat ini dia harus meyakinkan Shahabuddin agar mau bicara
dengan Bhaksi, menjelaskan tentang hubungan mereka, meski dia sudah tidak
bertunangan dengan Bhaksi.
Shahab –“Jalal adalah suamimu?! Kenapa kau tidak cerita?”
Jodha –“Aku sudah akan menceritakannya tadi. Tapi kak Shahab, seharusnya
tadi kau menahan Bhaksi agar tidak pergi!”
Shahab –“Percuma saja, dia juga tidak akan mendengarkan aku.”
Jodha –“Tapi kita harus menjelaskan yang sebenarnya padanya. Kau masih
mencintainya kan?!”
Shahab –“Dia akan lebih bahagia tanpa aku.”
Jodha –“Apa kau yakin? Kalau dia bahagia, dia tidak akan membawa terus
kebenciannya. Sudah setahun berlalu, tapi perasaannya masih sangat terluka.”
Shahab –“Tapi aku tidak bisa membawanya bersamaku.”
Jodha –“Setidaknya dia harus tahu keadaanmu yang sebenarnya.”
Shahab –“Tapi itu tidak akan merubah apa yang sudah terjadi.”
Jodha –“Aku tahu, tapi setidaknya dia tidak akan mengenang hubungan
kalian dengan cara yang salah. Dia masih berpikir kau telah mengkhianatinya,
dan pikiran itu akan terus membayanginya.”
Shahab –“Begitukah menurutmu?”
Jodha –“ Mungkin dia seorang gadis manja, tapi dia juga seorang wanita
yang terluka karena mencintaimu. Kemarahannya tidak hanya karena pengkhianatan,
tapi juga karena keputusasaannya yang berpikir bahwa kau tidak mencintainya
lagi. Kebenciannya terus ada karena kau tidak memberinya kesempatan untuk
mencintai.”
Shahab –“Entah ini kebetulan semata atau memang sudah takdir. Kau
menikah dengan kakak mantan tunanganku.”
Jodha tidak menjawab. Andai saja Shahab tahu, pembatalan pertunangannya
adalah salah satu alasan Jalal menikahinya. Seperti efek domino, satu kejadian
merunut pada kejadian yang lain.
Jodha –“Kak Shahab, kumohon ikutlah denganku menemui Bhaksi.”
Shahab –“Baiklah, demi kebenaran, aku akan mencoba bicara dengan
Bhaksi.”
****************************