Jalal mengajak anak2 itu masuk k kamarnya, Jalal berbaring di tempat itu denan memeluk anak2 tsb di kiri kanannya, Jodha duduk di kaki ranjang, Jalal berkata “aku akan memberrikan hadiah yang banyak bginkalian, tapi sebelum itu , aku akan cerritakan sebuah kisah pd kalian”
Jalal mulai bercerita :” kisah tentang seorang putrid yang pemarah” Jalal menatap Jodha saat bicara bgitu. Jodha yang awal nya menunduk merasa kalau itu tentang dirinya, ia menatap Jalal dngan kesal.
anak2 dngan kompak menginginkan Jalal memberitahu mereka bgaimana kisahnya. Jalal melanjutkan bercerita “ suatu hari, hidup seorang putri, dia mudah sekali marah. dia membenci warna hijau. suatu hari ia bertemu sang raja, sang raja sangat baik dan menawan “ dengan keteus Jodha menyahut “itu tdak benar!” dengan polos Jalal bertanya pd Jodha “apakah kau pernah dengar kisah ini? kurasa kau harus melanjutkan kisah ini” Jodha menjawab ia tdak tahu kisah ini, anak2 pu meminta agar Jodha menceritakannya pd mereka. Jalal tersenyum senang mendengar permintaan mereka, Jalal melanjutkan “kemudian, putri yang mudah marah itu menikah dngan sang raja yang baik dan menawan, lalu..” Jalalmenatap Jodha sblum berkata ‘lalu, putrid yang kejam itu membuat hidup sang raja menderita, ia merenggut semua kebahagiaan raja, dia sering mengeluh dan bertengkar, bhkan dia pernah melompat ke danau”
Jodha terseyum kecil
“bhkan dia pernah membuat sang raja melawan harimau” Jodha tertawa keras mendengarnya, ia terkikik.. Jalal senang melihat wajah Jodha yang tertawa, ia bertanya pd anak2 “apa kalian bs mendengar suara sang putri?” seorang anak menjawab, suaranya pastilah seperti malaikat. Jalal membantah “tidak, .. dengarkan dengan baik, suaranya seperti penyihir” senyum d wajan Jodha menghilang, Jalal melirik Jodha, dan bertanya “benarkan?”


Jalal melanjutkan ceritanya hingga anak2 tertidur. Ratu Meenawati memasuki kamar mereka, ia terkejut melihat anak2 tertidur di ranjang Jalal. Jodha ingin bngun dr duduknya namun di cegah oleh ibunya, ratu berkata “maaf yang mulia, maaf jika anak2 ini dtng ke sini dan mengganggu anda” Jalal menjawab sambil menepuk2 ringan kepala salah 1 anak, ia tidak keberatan mereka tidur di kamarnya, Jalal tidak ingin mengganggu mereka saat mereka tidur. ratu bertanya, jika mereka tidur di sana, Jalal akan tidur dmana? Jalal menyuruh Meenawati agar tidak khawatir, ia akan mengurusnya, namun jika Jodha keberatan tidur di sini, Jodha bs tidur di kamar lain. Jodha tdak mungkin menolak d depan ibunya, ia berkata jika ia tdk keberatan tdur bersama Jalal. Meenawati mengucapkan selamat malam lalu pergi dr senang.


Jalal tersenyum senang. Jodha bangkit , berJalalan ke sisi tempat tidur Jalal untuk mempebaiki selimut anak2. Jodha berkata “kau harus istirahat dngan cukup, jika kau sakit, ayah akan khawatir” Jalal sedikit kecewa “kau masih khawatir krna ayahmu, bukan karena aku”
Keesokan harinya, Mansingh sedang memegang panah, Jalal memberikan saran agar Mansigh menganggap senjata sbgai salah1 bgian dr tubuh, dengan bgitu senjata akan mengikuti pikiran dan tangannya. Bagwandas senang melihat Jalal melatih putranya. Jalal menyuruh mansingh melepaskan anak panah, Mansigh melepaskan anak panahnya, dan tepat mengenai sasaran nya, Jalal memuji mansingh. giliran Jalal yang membidik, anak panahnya pun tepat mengenai papan target. anak2 kecil yang kemarin bertepuk tangan melihatnya, Jalal menyuruh mereka mendekat. alah seorang anak memuji Jalal “apakah kau tahu? kau semakin tampan setiap hari, kau seperti raja dlam cerita itu” Mansigh dan Bagwandas tersenyum, Jalal berterimakasih atas pujiannya.


Jodha dan pelayan2 ny sedang berjalan, salah seorang pelayan berkata, jika Maham Anga tdka ingin dtng ke Amer, mengapa ia tidk tinggal saja di agra? Maham tdak pernah melewatkan kesempatan untuk mempermalukan Jodha. Jodha menjawab “aku bs apa? aku tak bs merubah jalan pikirannya” pelayan yang lain membenarkan ucapan Jodha, mereka tidak mungkin bisa merubah pikiran seseorang.
Jodha melihat anak2 di tempat latihan, salah seorang anak meminta di ajari memanah, Jalal menjawab ia tdk bs menolak, keinginan mereka anak2 adlh perintah bgi nya. Jalal mendirikan anak panah, ternyata panahnya lebih tinggi d banding anak yang terkecil. anak itu terlihat sdikit kecewa, mansing berkata “ Sujante (nama anak terkecil) kau masih terlalu kecil untuk belajar memanha, nanti saat kau lebih besar kau boleh belajar, sekarang pergi lah, jangan mengganggu yang mulia” Jodha mendengar saat Jalal berkata “jangan khawatir Mansigh. aku tak keberatan jika mereka ada di sini, malah aku senang menghabiskan waktu bersama mereka, jika tuan putri ingin belajar memanah, akku akan mengajarinya,” Jalal mengajari sujante memanah,
Bagwandas mendekati Mansigh dan berkata “ternyata raja tidak sekejam sperti rumor yang beredar” mansingh membenarkan ucapan ayahnya. menurutnya orang hanya melebih2kan saja.
Jalal msh mengajari sujante memanah, ia menyuruh agar menarik anak panah, dan anak panah nya mengenai sasaran. anak2 senang dan berseru “hidup raja”
Jodha mengomel ke pelayan, apakah raja tdak tahu jika anak kecil di larang memanah? bgaimana jika nanti ada yang terluka? ia menyuruh pelayan2 ny pergi, ia akan membawa anak2 ke dalam. Jodha mendatangi Jalal dan berkata “ permisi, yang mulia, anak2 ini blum cukup umur untuk belajar seni memanah, mereka bs terluka” Jalal menjawab jika ia hanya ingin mengabulkan keinginan mereka, Jodha melanjutkan omelannya, jika di biarkan mereka bs melukai orang lain “jika mereka di beri kebebasan, mereka semua bs menunggangi kuda dan pergi keluar istana”
Bagwandas mengingatkan Jodha jika dulu Jodha tidak pernah betah tinggal di istana, Mansigh ikut menimpali “apakah anda tahu yang mulia? bibi Jodha dulu sering melanggar perraturan, dia selalu menunggangi kuda jika ada kesempatan. prajurit kami harus mengejarnya dan membawanya kembali. dia sering melanggar . Jodha menegur Mansigh “Mansigh, kau lebih muda dari ku, kau tdak boleh mebahas ini dngan orang lain”
Mansigh berbisik di telinga Jalal “kau dengar itu? bibi Jodha suka mengatur” Jalal balas berbisik, “aku tahu itu Mansigh” Jodha sangat jengkel…
Salah seorang anak berkata “yang mulia, mungkin anda tidak tahu, kakak Jodha sangat ahli dalam memanah” Jalal menjawab, “ benar! aku tidak tahu dia memiliki bakat ini, apakah itu benar Ratu Jodha? “
Bagwandas yang menjawab “benar yang mulia, Jodha biasa bngun sblum fajar, dan datang kesini untuk berlatih seni berperang. dia cukup ahli menggunakan pedang dan jg memanah,”
Jalal berkata “aku sudah perrnah melihat keahlian berpedangnya, tapi aku ingin melihat keahlian memanahnya” Bagwandas memerintahkan Jodha untuk mengambil busur dan anak panah, buktikan pd raja jika ia adalh pemanah yang handal. Jalal menyerahkan busur kepada Jodha, Jodha menerimanya. Jalal kemudian menyerahkan 1 anak panah pd Jodha, dngan angkuh Jodha menolak dan mengambil sendiri 3 anak panah. ia membidikan ketiganya sekaligus, dan menembakkannya tepat pd target. Anak2 bertepuk tangan. semua orang bangga melihatnya.
Jalal memuji Jodha “kau sangat berbakat Ratu Jodha, baik bermain catur, menggunakan pedang, ahli membidik atau berperang, kau benar2 mahir dan kejam “
Jodha menyindir “kau jg mahir, dalam memberi perintah untuk menyiksa orang lain. melecehkan seseorang dan keras kepala”
Jodha menyerahkan busur lalu pergi.
Jalal berbicara ‘tidak memahami seseorang sepertinya salah satu keahlian nya jg,”