Kini dia tiba di kandang kuda dimana Jalal menunggunya.
Jalal bertanya lembut, "Jodha begum, Apakah kau ingin naik dengaku atau apakah kau tahu cara menunggang kuda?”
Jodha tersenyum dan berjalan melaluinya kemudian mengambil kuda putih terbaik untuk dirinya sendiri.
Jalal berjalan mendekatinya dan dengan nada mengejek ia berkata, "Jodha Begum, kuda ini sulit untuk ditangani, ia sangat cepat dan murung." Jalal berhenti, ia tersenyum sinis sambil menggosok dagu kuda dan mengejek Jodha, “Aku fikir kuda ini akan cocok untuk seleramu. Kalian berdua memiliki kepribadian yang sama.”
Jodha melirik Jalal dengan senyum di wajahnya dan menjawab sinis, "Sahenshah, Aku sangat baik dalam mengendalikan kuda-kuda yang sulit,
liar dan gila. Aku akan mampu mengendalikannya dengan baik. Aku tidak membutuhkan saran darimu." Kemudian dia melompat siap untuk naik kuda.
Jalal dengan rendah hati mengatakan, "Terlihat seperti kau adalah seorang ahli dalam berkuda juga."
Jodha menjawab dengan bangga, "Jangan pernah lupa bahwa aku adalah seorang putri Rajvanshi. Jika perlu, aku dapat menyelamatkan hidupmu juga."
Jalal senang melihat Jodha kembali kepada sikap sengitnya. Jalal dengan amarah kecil menjawab, "Jodha Begum, kau terlalu arogan dan kau meremehkan kemampuan Jalal. Kenapa kau tidak membuktikan kepadaku bahwa kau lebih baik dalam berkuda daripada aku?"
Darah Rajvansi Jodha seperti direbus, “Oh, jadi kau menantang ratumu Sahenshah!”
Jalal menatapnya dan menjawab, “Ya! Putri Rajvanshiku. Itu adalah sebuah tantangan."
Jodha dengan yakin berkata, "Tentu, aku siap untuk itu."
Jalal menunjuk jarinya dan berkata. "Lihatlah akhir tanah terbuka ini, jauh, ada sebuah pohon besar di dekat Danau dan pada pohon itu ada kain merah yang menggantung, siapa saja yang mendapatkan itu maka memenangkan perlombaan."
Keduanya saling memandang dan melirik dengan seringai di wajah mereka kemudian memulai balapan. Tentu Jalal lebih baik dalam Berkuda daripada Jodha jadi dia sedikit di depannya. Tetapi ketika ia melihat kembali untuk melihat Jodha ia tidak fokus karena kecantikannya. Rambutnya, chunninya yang hijau terbang di udara dan wajahnya bersinar dan matanya menatap pada target. Jalal begitu terkesan dengan keterampilan berkudanya dan tersesat pada kecantikannya yang memesona.
Gangguan ini membuatnya lebih lambat dan Jodha kini bisa mendahului Jalal.
Jalal menyadari ia berada di belakang sekarang jadi dia melakukan semua upaya untuk memenangkan perlombaan. Sekarang mereka sedang sejajar. Untuk beberapa waktu, mereka sudah dekat dengan target.
Jodha memperhatikan bahwa Jalal terus menatapnya tanpa berkedip. Ia sedikit tersipu, namun kemudian ia fokus pada target.
Mereka hampir mencapai tujuan.
Akhirnya, Jalal mulai berfokus pada balapan untuk menang. Jodha memperhatikan bahwa Jalal juga berusaha keras untuk menang dan mereka berdua melompat dari kuda pada saat yang sama untuk menangkap kain. Mereka berdua menyambar kain bersama-sama tetapi Jodha kehilangan keseimbangan dan akan jatuh. Saat itu Jalal menyadari bahwa Jodha jatuh, ia mencoba untuk menyelamatkan dirinya dan ia kehilangan pegangannya pada kain tetapi Jodha berhasil diselamatkan.
Jodha jatuh dilengan Jalal dengan kain ditangannya. Matanya ditutup karena jatuh jatuh. Pernapasan mereka keras dan terdengar. Jalal menatap Jodha dan bernafas dalam-dalam. Jodha tampak begitu polos dengan mata tertutup, seperti seorang anak kecil. Ia mencengkeram lener Jodha dan menyembunyikannya didadanya. Jalal tidak ingin membiarkannya pergi dari tangannya. Aroma manisnya, perlukannya yang nyaman dan lembut membuatnya gila. Dia ingin memelekunya erat dan mencium bibirnya dengan lembut.
Setelah beberapa detik, Jodha membuka matanya dan melihat aura yang bergairah di mata Jalal. Pengangan posesifnya dan tatapannya memberikannya getaran.
Tiba-tiba Jodha merasa malu dan sedikit tersipu dengan tatapan Jalal. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jalal, pandangannya dan raut wajahnya bahkan menginginkan lebih.
Setelah beberapa detik, Jodha sadar bahwa Jalal telah memegangnya begitu lama dan membuatnya sedikit tidak nyama.
Dengan nada rendah dia berkata, “Shahenshah, tolong lepaskan aku.”
Jalal keluar dari pesona sihirnya dan dengan nafas hangat dia tersenyum dan kemudian melepaskan Jodha.
Jodha merasa malu, “Terima kasih telah menyelamatkan aku Sahenshah, tapi kau telah kalah dari permainan ini.” Jodha terdengar lebih bersemangat dan menyenangkan. Kemudian dia menunjukkan kainnya kepada Jalal dan kebanggan kemenangan terpancar diwajahnya.
Jalal menatap Jodha tanpa merasa bersalah. Dia tersnyum dan menhawab, “Jodha begum, siapa yang tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah?”
Jodha tahu apa yang Jalal ingin katakan. Mereka berdua tersesat lagi di pandangan masing-masing.
Dalam pikiran Jodha, “Oh Tuhan... dia begitu menarik dan menawan. Ia dapat mempesona setiap wanita dengan satu tatapan. Maka tiba-tiba terpikir padanya bahwa dia sedang menatap Jalal, sehingga untuk menyembunyikan emosinya dia cepat bertanya, "Mengapa kau tiba-tiba begitu baik?"
Jalal berkata dengan nada santai sambil berjalan menuju pohon, “Jodha begum, tak bisakah kau melupakan masa lalu dan mulai lembaran baru, mengapa kita tidak bisa sedikit saling mengenal lebih baik?”
Jodha sedikit kesal, “Jadi kau mengatakan bahwa aku yang selalu ingin melawan?"
Jalal menoleh padanya dan mulai tertawa.
Hari itu pagi yang indah dan cerah. Ada danau kecil didekat pohon. Seluruh daerah itu begitu damai dan tenang, burung-burung berkicau, angin sejuk bertiup. Danau dikelilingi oleh bunga mawar berwarna-warni dan bunga melati. Itu adalah tempat yang sangat damai dan cukup menenangkan.
Jalal pergi di bawah pohon besar dan duduk di rumput untuk bersantai. Dia memanggil keras, "Jodha begum, kemarilah duduk denganku dan bersantai."
Awalnya Jodha merasa agak ragu, namun kemudian ia pergi dan duduk disamping Jalal.
Jodha begitu tertarik pada Jalal, itu sebabnya ia sedikit ragu-ragu dan takut duduk begitu dekat dengan Jalal.
Mata Jalal terpejam, namun dia bisa merasakan kehadiran Jodha didekatnya. Jodha menatap kepribadiannya yang menarik dengan bahu atletis yang luas.
Tanpa membuka matanya Jalal berkata, "Jodha begum berhenti menatapku seperti ini."
Jodha menyipitkan matanya, “Mengapa aku akan melihatmu?”
Jalal menjawab dengan cepat, “Jangan malu Jodha, aku telah melihat berkali-kali bahwa kau ingin mentapku.”
Jodha menjawab dengan polis, “Jadi bagaimana jika aku melihatmu. Aku juga melihat kau menatapku, pada kenyataannya, kau hanya kehilangan hari karena kau terlalu sibuk menatapku.”
Jalal tersenyum misterius dan bertanya, "Apakah kau tahu mengapa aku suka menatapmu?"
Jodha menjawab dengan gugup, "Aku tidak tahu dan aku tidak ingin tahu Shahenshah."
Jalal dengan mata tertutup tersenyum dan berkata, "Jodha begum, Apakah kau tahu ini adalah salah satu tempat favoritku! Setiap kali, aku merasa kesepian, atau terlalu tertekan, aku datang kesini untuk bersantai. Ini adalah kerajaan pribadiku. Tidak seorang pun diperbolehkan datang kesini, bahkan Ratu Ruqaiya, aku selalu datang kesini sendirian. "
Jodha dengan suara heran bertanya, “Lalu mengapa kau membawaku kesini?”
Jalal membuka matanya dan memandangnya dengan cinta yang mendalam dan kuat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia memejamkan matanya lagi untuk bersantai.
Jodha sangat tersipu dalam keheningan dan berpikir... “Mengapa dia tidak bisa mengatakan sesuatu? Bagaimana aku katakan padanya bahwa aku begitu putus asa untuk mendengar apa yang dia katakan hanya dalam melihat dalam diam?”
Mereka berdua sudah sangat lelah dan sama sekali tidak tidur semalam. Suasana sangat sejuk dan tenang, angin sepoi-sepoi membuat mereka mengantuk, dalam beberapa menit keduanya terlelap dalam tidur dengan suara yang menenangkan.
Tidur ini seperti sihir, membasuh kemarahan mereka. Keduanya merasa tenang dan pasif, mereka merasa seperti mereka beristirahat setelah perang besar.
Dalam nyenyak, Jodha berpaling untuk mendapatkan dukungan dan tidak sengaja menyandarkan kepalanya pada bahu Jalal, rambut panjangnya yang halus itu meniup di wajahnya. Tangannya berada di dada Jalal.
Rambutnya akhirnya membangunkan Jalal. Setelah membuka matanya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Jodha yang bertengger di atas bahunya seperti sebuah keindahan dalam tidur, rambutnya di wajahnya, yang membuat dia lebih manis. Jalal ingin memeluknya erat dalam pelukannya, namun ia mengendalikan keinginannya dan hanya memegang tangannya dan kembali tidur.
Beberapa menit kemudian... mereka saling berpelukan dalam tidur, mereka berdua tahu dalam tidur mereka memeluk tetapi tidak ingin menghentikan mimpi mereka yang paling indah. Ini adalah sentuhan pertama cinta mereka, dan untuk jodha ini adalah pertama kalinya dia pernah menyentuh seseorang secara sensual. Otaknya berhenti bekerja untuk sementara waktu... yang ia ingin lakukan adalah bersembunyi di bahu Jalal yang luas.
Jalal tidak percaya dengan apa yang terjadi dan perlahan-lahan pelukan bersalah mereka berubah menjadi bergairah dan pelukan yang paling romantis. Jalal memiliki tubuh Jodha dalam pelukannya begitu kuat, sehingga mereka dekat satu sama lain, mereka bahkan bisa mendengar detak jantung satu sama lain.
Jodha sepenuhnya kehilangan indera dan kendali dirinya, dia mencair di tangan Jalal yang berotot seperti es yang mencair karena terbakar, ini adalah saat-saat paling lemah yang pernah ia alami. Mereka tenggelam dalam pelukan mereka selama lebih dari lima menit. Keduanya merasa sangat konten. Perlahan-lahan, pelukan Jalal pada Jodha semakin kuat dan semakin kuat.
Akhirnya Jalal membuka matanya dan melihat Jodha yang bergitu menawan, ia tersenyum kemudian dengan lembut ia mencium mata Jodha kemudian menggosokkan pipinya dengan pipi Jodha.
Jodha merasa sangat malu... dia tidak mau membuka matanya. Satu tangan Jalal berada dibawah kepala Jodha dan setengah tubuh Jodha menjadi miliknya. Ibu jarinya dengan lembut berpindah ke bibir bawah Jodha dan kemudian tersenyum melihat bibir Jodha yang menggigil. Ia kemudian bersandar dan mencengkeram seluruh tubuh Jodha kemudian mencium bibir Jodha dengan hati-hati. Ia hanya menyentuh bibirnya selama beberapa detik.
Sebagian kecil otaknya yang masih berfungsi mengatakan bahwa ia bodoh, namun tubuhnya merasa sulit untuk berhenti. Perlahan-lahan Jalal melepaskan perhiasan Jodha dari wajanya dan sedikit menarik dirinya dan menunggu responnya.
Jodha membuka matanya dengan malu dan melihat wajah Jalal dan matanya yang menginginkan lebih.
Jalal memiliki begitu banyak wanita dalam hidupnya, tapi dia tidak pernah menginginkan seseoang seperti ia menginginkan Jodha, kerinduan terhadap Jodha adalah obsesi. Sentuhannya membuat Jalal merasa lengkap. Perasaan kebersamaan dengan Jodha begitu luar biasa... Jalal ingin memberikan dirinya pada Jodha. Dia ingin mencintainya dan memberikannya jaminan bahwa Jodah miliknya dan dia akan selalu aman dan dikasihinya.
Hubungan suami istri diantara mereka hampir terjalin. Namun saat Jalal akan membuka dori Jodha, Jodha tersadar bahwa ia sudah pergi terlalu jauh.
Jodha mendorong Jalal dan langsung berdiri. Dengan terhuyung-huyung ia melangkah beberapa langkah ke belakang dan berkata dengan nada hampir berbisik, “Kita tidak boleh melakukan ini Shahensah.”
Jalal mendekati Jodha dan berkata dengan sabar tanpa menyentuhnya, “Kita akan gila jika tidak melakukannya.”
Jalal meilihat ke dalam mata Jodha ada hasrat mendalam ada kemungkinan Jodha akan menolaknya juga.
Jalal menariknya ke arahnya dan bertanya, “Mengapa tidak? Aku suamimu. Kita tidak melakukan hal yang salah Jodha.”
Keinginan Jalal sangat besar, dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, ia sudah tidak siap untuk mendengar kata TIDAK. Jalal menarik Jodha lebih dekat dengan semangat dan sedikit kemarahan.
Translate by ChusNiAnTi