Gong Chan dan Joo Hong langsung pulang. Mereka girang karena mereka fikir mereka bisa menipu Hyun Wook. Joo Hong memuji rumah Hyun Wook yang bagus dan berharap Se Na bisa tinggal disana.
Gong Chan mengalihkan pembicaraan. Ia mengusulkan mengganti pintu rumah sehingga Se Na tidak bisa masuk. Joo Hong menyentuh pipi Gong Chan dan memuji Gong Chan cerdas. Gong Chan girang dan menggoyang-goyangkan pinggulnya, sementara Joo Hong menepuk-nepuk pantatnya.
Se Na langsung berjalan kedepan keyboarnya. Hyun Wook terus menatap Se Na. Se Na meminta Hyun Wook untuk tak memperdulikannya, ia akan cepat menyelesaikan lagunya. Namun Hyun Wook tak bisa melakukan hal tersebut, karena Se Na berada ditengah-tengah bagian rumahnya.
Se Na pun menarik kursi disampingnya dan menyuruh Hyun Wook duduk disampingnya kalau memang begitu. Hyun Wook pun duduk disamping Se Na. Ia terus menatap Se Na yang sedang menyelesaikan lagu yang dibuatnya.
Se Na terus membuat lagu hingga larut, sementara Hyun Wook sudah tertidur pulas. Se Na memandang Hyun Wook kemudian menghampirinya. Ia menyentuh pipi Hyun Wook, “Mimpi yang indah, Ahjussi.”
Tae Min mondar-mandir di depan ruangan Presdir Lee. Hee Sun keluar dan tampak berantakan. Tae Min meminta maaf karena telah salah faham kepada Presdir Lee, “Apa kau akan memaafkannya?” Melihat Hee Sun yang menunduk, Tae Min mengerti bahwa Hee Sun telah memaafkannya.
Dipagi harinya, Hyun Wook membuat minuman hangat. Ia menlihat keyboard Se Na dan mendekatinya. Ia berhasil menekan tut keyboard tersebut. Se Na mengejutkannya dan mengajaknya untuk pergi jalan-jalan.
Mereka berdua bergandengan tangan disepanjang jalan. Hyun Wook tiba-tiba ingin minum kopi. Se Na menyuruhnya untuk membuka tasnya, dan Hyun Wook menemukan kopi didalam tas yang dibawa Se Na. Se Na mengatakan bahwa tas nya adalah tas serbaguna. *Seperti kantong doraemon ya... LOL*
Se Na kemudian mengulurkan tangannya dan menyuruh Hyun Wook menggenggamnya. Hyun Wook langsung menggenggamnya, “Dengan begini, kita tidak akan terpisahkan.”
Mereka pergi ke toko, dan secara kebetulan, mereka memilih jaket yang sama dan pada akhirnya menggunakannya sebagai couple an. Saat di kasir, ia ingin membayarnya, namun Hyun Wook juga sudah mengeluarkan dompet. Dan pada akhirnya, Hyun Wook mengusulkan, ia yang membayar jaket Se Na dan Se Na yang membayar jaketnya.
Tak hanya itu, Se Na ternyata juga membeli sepatu couple. (Kalau berhubungan dengan sepatu, sudah dapat ditebak bahwa akan ada perpisahan).
Hyun Wook merasa aneh dengan Se Na yang tiba-tiba bersikap baik. Se Na beralasan bahwa ia sekarang sudah memiliki banyak uang dari lagu yang dihasilkannya. Hyun Wook bersedia memakai semua yang dibelikan Se Na, asal Se Na tetap berada disisinya.
Hyun Wook tiba-tiba mendapat telpon dari Hee Sun. Hyun Wook memberitahu Se Na bahwa ayahnya sekarang sedang di rumah sakit dari baru sadarkan diri. Se Na menyuruh Hyun Wook untuk segera pergi menemui ayahnya.
Dengan cemas, Hyun Wook langsung pergi keruangan ayahnya. Presdir Lee tak berbicara, ia hanya mengisyaratkan dengan tangannya supaya Hyun Wook mendekat.
Hyun Wook mendekat dan langsung menggenggam erat tangan Presdir Lee. Presdir Lee terus menganggukkan kepalanya belum mampu berbicara apapun.
Shi Woo menemui Se Na untuk berpamitan karena ia akan tur luar negeri selama 2 minggu, “Aku jarang menelponmu karena sedang sibuk.” Shi Woo mengirim fotonya ke ponsel Se Na, dan kemudian ia mengambil foto Se Na untuk dirinya. “Aku akan merindukanmu.”
Se Na tersenyum, “Semangatlah. Semoga berhasil. Dulu, aku mengalami banyak kesulitan saat menulis lagu. Dan kau membuatku tersenyum. Kalau difikir-fikir, kau adalah orang yang baik.”
Shi Woo dapat merasakan bahwa Se Na akan pergi. Namun Se Na menyangkalnya. Ia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa ia tak menyukai foto Shi Woo yang dikirimkannya. Ia kemudian mendekat ke sisi Shi Woo dan mengajaknya foto bersama. Shi Woo terlihat canggung. Se Na menyuruhnya tersenyum dan memulai hitungannya. Saat hitungan ketiga, Shi Woo mencium pipinya membuat Se Na terkejut, “Ku harap kau menyukai foto yang ini. sampai jumpa.”
Shi Woo pergi dengan senyum lebar. Sementara Se Na hanya berdiri terpaku dan menatap fotonya.
Se Na mentraktir Joo Hong dan Gong Chan makanan mahal. Ia berpesan kepada mereka berdua untuk tidak pernah putus. Joo Hong dengan manja ingin merencanakan pergi ke tempat selanjutnya, namun Gong Chan memilih untuk tidur di rumah saja.
Se Na mengamati sekeliling rumah Hyun Wook. Hyun Wook tiba-tiba datang. Se Na menanyakan apa Hyun Wook ingin pindah, karena banyak kenangan disana, tentang dirinya dan Dal Bong.
Namun Hyun Wook tak ingin melakukannya, “Aku pindah kesini karenamu. Ada banyak kenangan bersamamu disini, dan akan terus bertambah lagi. kau adalah rumah bagiku.”
Mereka kemudian tidur bersama. Se Na menayakan, pasti banyak kenangan yang terjadi selama di Seoul, “Jangan memaksa diri demu aku lagi. Aku ingin kau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Dengarkan musik dan menulis lagu lagi. Aku berharap... kau kembali menjadi... dirimu yang lama.”
Hyun Wook membelai rambut Se Na, menyentuh pipinya dengan lembut dan kemudian menepuk-nepuk Se Na hingga Se Na terlelap.
Hyun Wook mendekati keyboarnya dan mulai menekan tut nya. Se Na terbangun dan dari atas, ia terpana melihat Hyun Wook yang membuat lagu dengan indah meskipun masih sedikit tegang.
Se Na menghampiri Hyun Wook dan memintanya melanjutkannya, “Aku ingin dengar lagu yang kau buat. Itulah kau yang sebenarnya.”
Hyun Wook melanjutkan musiknya, kali ini ia sudah nyaman. Semua kenangannya bersama Hyun Wook kembali berbutar di benak Se Na.
Hyun Wook mengakhiri musiknya dan menghadap Se Na, “Aku ingin, membuatkan lagu untukmu. Aku tidak pernah berfikir, bahwa aku bisa menulis lagu lagi.”
Hyun Wook membelai rambut dan pipi Se Na kemudian mengecup bibir Se Na. Setelah Hyun Wook mengakhiri ciumannya, mereka kemudian mengatakan saling mencintai. Hyun Wook meraih Se Na dalam pelukannya dan mereka terus berpelukan erat seakan tak mau terpisahkan.
Komentar:
Pada akhirnya semua kesalahfahaman antara Presdir Lee dan keluarganya telah terselesaikan. Beruntung, karena semuanya belum terlalu terlambat. Meskipun begitu, diantara sesama anggota keluarga sangat diperlukan keterbukaan dan kejujuran. Tanpa kejujuran, kemungkinan kecil sebuah keluarga itu dapat harmonis.
Dan ini adalah bagian terakhir saya menulis sinopsis drama ini. Jujur saja, saya tidak begitu tertarik dengan drama ini. Menurut saya, ceritanya terlalu monoton. Kurang sedikit gebrakan pada drama ini. Namun tetap terima kasih kepada semuanya, dari sekian banyak penonton dan pembaca, pasti ada juga yang menyukai drama ini. Terima kasih kepada Mbak Ayu dan Mbak Lilik yang sudah berbaik hati bersama saya menyelesaikan sinopsis drama ini. Terima kashi juga kepada readers yang telah berkenan mampir ke Blog kami untuk membaca sinopsis dari kami. Terima kasih untuk readers yang mau memberikan komentarnya, meskipun saya tidak bisa membalasnya satu per satu, namun saya membaca semua komentarnya. Mohon maaf, jika selama ini banyak salah kata dan pernyampaian yang kurang sesuai atau sulit difahami.
~ “Semoga kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa lagi” ~